<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jaeni Dahlan web blog</title>
	<atom:link href="http://jaenidahlan.info/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jaenidahlan.info</link>
	<description>Personal Web Of Jaeni Dahlan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 09 Jun 2010 10:40:03 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>SUMBER DAYA MANUSIA</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=44</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=44#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 10:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam  reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan  memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan  global. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut  kondisi SDM Indonesia, yaitu:
Pertama adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">SUMBER DAYA MANUSIA</p>
<p>Sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam  reformasi ekonomi, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan  memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan  global. Dalam kaitan tersebut setidaknya ada dua hal penting menyangkut  kondisi SDM Indonesia, yaitu:</p>
<p>Pertama adanya ketimpangan antara jumlah kesempatan kerja dan  angkatan kerja. jumlah angkatan kerja nasional pada krisis ekonomi tahun  pertama (1998) sekitar 92,73 juta orang, sementara jumlah kesempatan  kerja yang ada hanya sekitar 87,67 juta orang dan ada sekitar 5,06 juta  orang penganggur terbuka (open nemployment). Angka ini meningkat terus  selama krisis ekonomi yang kini berjumlah sekitar 8 juta.</p>
<p>Kedua, tingkat pendidikan angkatan kerja yang ada masih relatif  rendah. Struktur pendidikan angkatan kerja Indonesia masih didominasi  pendidikan dasar yaitu sekitar 63,2 %. Kedua masalah tersebut  menunjukkan bahwa ada kelangkaan kesempatan kerja dan rendahnya kualitas  angkatan kerja secara nasional di berbagai sektor ekonomi.</p>
<p>Ketiga,lesunya dunia usaha akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan  sampai saat ini mengakibatkan rendahnya kesempatan kerja terutama bagi  lulusan perguruan tinggi. Sementara di sisi lain jumlah angkatan kerja  lulusan perguruan tinggi terus meningkat. Sampai dengan tahun 2000 ada  sekitar 2,3 juta angkatan kerja lulusan perguruan tinggi. Kesempatan  kerja yang terbatas bagi lulusan perguruan tinggi ini menimbulkan dampak  semakin banyak angka pengangguran sarjana di Indonesia.</p>
<p>Menurut catatan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti)  Depdiknas angka pengangguran sarjana di Indonesia lebih dari 300.000  orang. Fenomena meningkatnya angka pengangguran sarjana seyogyanya  perguruan tinggi ikut bertanggungjawab. Fenomena penganguran sarjana  merupakan kritik bagi perguruan tinggi dan sekolah negeri, karena  ketidakmampuannya dalam menciptakan iklim pendidikan yang mendukung  kemampuan wirausaha siswanya.</p>
<p>Masalah SDM inilah yang menyebabkan proses pembangunan yang berjalan  selama ini kurang didukung oleh produktivitas tenaga kerja yang memadai.  Itu sebabnya keberhasilan pembangunan yang selama 32 tahun dibanggakan  dengan tingkat pertumbuhan rata-rata 7%, hanya berasal dari pemanfaatan  sumberdaya alam intensif (hutan, dan hasil tambang), arus modal asing  berupa pinjaman dan investasi langsung. Dengan demikian, bukan berasal  dari kemampuan manajerial dan produktivitas SDM yang tinggi.  Keterpurukan ekonomi nasional yang berkepanjangan hingga kini merupakan  bukti kegagalan pembangunan akibat dari rendahnya kualitas SDM dalam  menghadapi persaingan ekonomi global</p>
<p>Sekarang bukan saatnya lagi Indonesia membangun perekonomian dengan  kekuatan asing. Tapi sudah seharusnya bangsa Indonesia secara benar dan  tepat memanfaatkan potensi sumberdaya daya yang dimiliki dengan  kemampuan SDM yang tinggi sebagai kekuatan dalam membangun perekonomian  nasional.Orang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa  yang tidak pernah selesai. Ada tiga hambatan yang menjadi alasan kenapa  orang tidak bekerja, yaitu hambatan kultural, kurikulum sekolah, dan  pasar kerja. Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya  dan etos kerja. Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum sekolah  adalah belum adanya standar baku kurikulum pengajaran di sekolah yang  mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian SDM yang sesuai dengan  kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan  oleh rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar  kerja.</p>
<p>Ekonomi abad ke-21, yang ditandai dengan globalisasi ekonomi,  merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, di mana  negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin  terintegrasi dengan<br />
tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi yang sudah pasti  dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing  dalam dunia usaha.</p>
<p>Masalah daya saing dalam pasar dunia yang semakin terbuka merupakan  isu kunci dan tantangan yang tidak ringan. Tanpa dibekali kemampuan dan  keunggulan saing yang tinggi niscaya produk suatu negara, termasuk  produk Indonesia,<br />
tidak akan mampu menembus pasar internasional. Bahkan masuknya produk  impor dapat mengancam posisi pasar domestik. Dengan kata lain, dalam  pasar yang bersaing, keunggulan kompetitif merupakan faktor yang  berpengaruh dalam meningkatkan kinerja perusahaan. Oleh karena itu,  upaya meningkatkan daya saing dan membangun keunggulan kompetitif bagi  produk Indonesia tidak dapat ditunda-tunda lagi dan sudah selayaknya  menjadi perhatian berbagai kalangan, bukan saja bagi para pelaku bisnis  itu sendiri tetapi juga bagi aparat birokrasi, berbagai organisasi dan  anggota masyarakat yang merupakan lingkungan kerja dari bisnis  corporate(kerjasama).</p>
<p>Oleh karena itu, untuk mengantisipasi tuntutan globalisasi seyogyanya  kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sistem pendidikan perlu  dirubah.Hubungan antara pendidikan dengan dunia kerja mutlak  diperlukan.Siswa butuh praktek lapangan bukan hanya duduk diam dan  mendengarkan serta diberi test tulis yang amat membosankan tapi berilah  soal dunia nyata agar kreativitas dan pikiran bawah sadarnya dapat  optimal serta terlatih. Namun sayang sistem pendidikan diIndonesia hanya  menitik beratkan pada test tulis terbukti pada peningkatan standart  kelulusan pada Uan atau unas tiap tahunnya. Padahal jika dilihat lebih  lanjut kebijakan tersebut merupakan kebijakan terbodoh yang pernah ada.  Kenapa karena hal tersebut hanya membuat siswa terpaksa belajar hanya  untuk meraih nilai standart bukan untuk melatih skil yang dirinya  butuhkan untuk menghadapi tantangan persaingan global padahal yang  dibutuhkan sekarang bukan nilai akademik yang tertulis tapi skil yang  benar-benar dikuasai dan dipraktekkan didunia nyata maka wajar saja jika  Indonesia masih minim sumberdaya manusia yang benar-benar memiliki  keahlian dibidangnya sebaliknya angka pengangguran terus meningkat.</p>
<p>Sistem pendidikan perlu dirubah total karena jika kita terus bertahan  disistem pendidikan lama seperti sekarang ini maka kita akan terus  terpuruk khususnya dibidang ekonomi. Kenapa? Karena sistem pendidikan  diIndonesia terus menerus melatih siswa dengan mematikan karakteristik  dan bakat terpendam siswa. Ya sistem pendidikan di Indonesia hanya  membunuh karakter siswa lihat saja siswa yang baru masuk sekolah begitu  riang dan gembira akan tetapi setelah masuk sekolah dan menerima  berbagai pelajaran,dirinya mulai bosan dan ingin segera keluar dari  sekolah. Kenapa?Karena ada yang terbunuh dari jiwanya yaitu kebebasannya  dalam mengembangkan bakat dasar yang dia bawa sejak lahir.Jika siswa  terbiasa terkekang dan takut dengan berbagai ancaman maka wajar saja  kelak dirinya menjadi pengangguran karena kreativitasnya telah lama  terpasung dan terbiasa bergantung serta lebih senang mencari kerja dari  pada menciptakan lapangan kerja padahal lapangan kerja semakin  terbatas.Teori itu penting tapi praktik lebih penting</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=44</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=41</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=41#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 10:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[



 Sumber Daya Alam dan Lingkungan 







&#8220;Dalam pengelolaan sumber  daya alam ini benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya  pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber  daya alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi-generasi di  masa depan.&#8221;Membahas tentang sumber daya alam, dapat kita bagi ke dalam  dua kategori [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table>
<tbody>
<tr>
<td>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>Sumber Daya Alam dan Lingkungan </strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td>
<div title="Artikel UBB Terbaru : Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup  (Bagai Dua Sisi Mata Uang)">&#8220;Dalam pengelolaan sumber  daya alam ini benang merahnya yang utama adalah mencegah timbulnya  pengaruh negatif terhadap lingkungan dan mengusahakan kelestarian sumber  daya alam agar bisa digunakan terus menerus untuk generasi-generasi di  masa depan.&#8221;Membahas tentang sumber daya alam, dapat kita bagi ke dalam  dua kategori besar, yakni sumber daya alam yang bisa diperbaharui  (seperti hutan, perikanan dan lain-lain). Dan sumber daya alam yang  tidak bisa diperbaharui, seperti, minyak bumi, batubara, timah, gas alam  dan hasil tambang lainnya. Dalam tulisan ini akan kita kaji sumber daya  alam berupa hasil tambang dan itu tidak dapat diperbaharui.  Membicarakan hasil tambang, tentu timah merupakan salah satunya.</p>
<p>Apalagi timah sangat identik dari sebuah ciri khas sebuah propinsi yang  bernama Bangka Belitung. Siapa yang tidak kenal negeri kita jika kita  katakan merupakan salah satu pulau penghasil timah di republik ini.  Namun, berbicara tentang pengelolaan hasil tambang berupa timah itu  sendiri, rasanya sangat malu melihat bagaimana permukaan negeri ini yang  telah hancur dan membentuk kolong-kolong kecil sehingga membentuk  seperti sebuah danau-danau kecil. Apalagi butuh cost yang sangat mahal  untuk reklamasi lahan minimal mengurangi dampak buruk pada masa yang  akan datang. Siapa yang akan disalahkan? Bukan pertanyaan itu yang mesti  kita jawab.</p>
<p>Tapi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi dan apa yang mesti kita  perbuat untuk memberikan solusi yang terbaik untuk kelestarian sebuah  lingkungan hidup. Mungkin, jika dikaitkan dengan kemiskinan dan  bagaimana masyarakat harus berpikir untuk mengenyangkan “perut” hal  inilah mungkin yang menjadi sebab utama mendorong penduduk menguras alam  sehingga merusak lingkungan. Jika kita amati bahwa dapat kita katakan  ada hubungan antara jumlah dan macamnya sumber daya alam dengan produk  bagi konsumsi masyarakat. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin besar  pola konsumsi masyarakat maka semakin banyak pula sumber daya alam yang  akan dikelola dan semakin beraneka ragam pola konsumsi masyarakat, maka  semakin bermacam pula sumber daya alam yang akan dikelola.</p>
<p>Dari permasalahan tersebut di atas, dapat kita telaah dan mungkin harus  menjadi pertanyaan bagi kita, mengapa hal seperti itu bisa terjadi?  Jawabannya tentu ada pada diri kita masing-masing untuk lebih bersikap  arif terhadap lingkungan sebelum lingkungan itu sendiri yang memberitahu  kepada kita bahwa setiap bencana alam yang terjadi adalah karena ulah  tangan manusia itu sendiri. Kita amati bagaimana sebuah bencana banjir  yang terjadi di Aceh &amp; Sumatera Utara yang diakibatkan penggundulan  Taman Nasional, Gunung Leuser, Alikodra (7/12/2006) atau di negeri  Serumpun Sebalai sendiri, beberapa minggu terakhir terjadinya banjir  yang menggenangi daerah Semabung, Pangkalpinang akibat tidak ada lagi  yang menjadi penyerap air di daerah sekitarnya. Padahal seperti yang  kita ketahui bahwa kawasan hutan memiliki kemampuan dalam mengatur tata  air, mencegah erosi dan banjir serta memelihara kesuburan tanah.</p>
<p>Berbicara sumber daya alam tentu tak lepas dari peran sebuah teknologi  tepat guna untuk sebuah kelestarian lingkungan. Untuk itu, pengusaha  harus dapat memilih teknologi dan cara produksi yang bisa memperkecil  dampak negatif dari kepada lingkungan. Apalagi jika kita lihat kebijakan  penataan ruang daerah dilakukan dengan tujuan untuk mampu menciptakan  pemanfaatan ruang wilayah yang berimbang, optimal dan berwawasan  lingkungan untuk kepentingan masyarakat luas. Kita tidak dapat menutup  mata, bagaimana pemanfaatan teknologi berupa alat berat pada sektor  pertambangan, yang secara seporadis membabat habis hutan untuk mencari  hasil tambang yang terkadang hasilnya nihil atau 0%. Kepada siapa kita  akan bertanggung jawab? Pikirkan apa yang dapat kita tinggalkan untuk  generasi mendatang dan apa yang dapat kita katakan kepada mereka. Atau  lingkungan hidup yang seperti inikah yang akan kita wariskan kepada  mereka?</p>
<p>Akhir dari sebuah permasalahan, tentu akan tuntas dengan adanya  solusi-solusi yang mungkin akan ada tindak lanjut ke depannya. Pertama,  pemerintah harus lebih giat dalam meningkatkan kesadaran masyarakat  mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia  melalui pendidikan dalam dan luar sekolah. Kedua, perlunya inventarisasi  dan Evaluasi potensi SDA dan lingkungan hidup. Ketiga, meningkatkan  penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan terutama untuk  pengembangan pertanian, industri dan kesehatan. Keempat, penyediaan  Infra Struktur dan Spasial SDA dan Lingkungan Hidup baik di darat, laut  maupun udara. Kelima, Perlunya persyaratan AMDAL terhadap usaha-usaha  yang mengarah pada keseimbangan hidup. Terakhir, perlunya penyuluhan dan  kerjasama kemitraan antara Lembaga Masyarakat dalam Pengelolaan  Lingkungan Hidup dan SDA serta perlunya peningkatan kemampuan Institusi  dan SDM Aparatur Pengelolaan SDA dan LH. Karena pembangunan yang baik  adalah yang berwawasan lingkungan walaupun terkadang dengan kemungkinan  kerusakan untuk ditimbang dan dinilai manfaat untung ruginya dan diambil  keputusan dengan penuh tanggung jawab kepada generasi mendatang. Karena  generasi yang akan datang, tidak ikut serta dalam proses pengambilan  keputusan sekarang dalam menentukan penggunaan sumber daya alam yang  sebenarnya kita hanya meminjami dari mereka untuk pembangunan masa kini  dengan dampak pembangunan di masa nanti!</p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=41</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMANASAN GLOBAL</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=39</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=39#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 10:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[PEMANASAN GLOBAL
Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu  rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca  di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim,  seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga  menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan  mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PEMANASAN GLOBAL</strong></p>
<p>Pemanasan Global adalah meningkatnya suhu  rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas Rumah Kaca  di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim,  seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga  menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan  mengalami musim kering yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.</p>
<p>Pemansan global terjadi ketika ada konsentrasi  gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg terus bertambah  di udara, hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia, kegiatan  industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah  karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara,  minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan.</p>
<p>Asam nitrat dihasilkan oleh kendaraan dan emisi  industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh aktivitas industri dan  pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan ozon seperti juga gas  rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang dihapus dalam  Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan, asam  nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring  banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap  banyak CO2, kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat  emisi. Ini berarti bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah  kaca yang berada di udara bertambah dan itu berarti mempercepat  pemanasan global.</p>
<p>Sepanjang  seratus tahun ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler.  Sekitar 70% energi dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi  tersebut berasal dari bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan  ketidakseimbangan yang mengakibatkan sejumlah wilayah terkuras habis dan  yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara itu, jumlah dana untuk  pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari, angin, biogas, air,  khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi penggunaan bahan  bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah rendah, dalam  perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang dialokasikan  untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.</p>
<p>Penggundulan hutan yang mengurangi penyerapan  karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah sebesar 20%, dan  mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga mempengaruhi  kesuburan tanah.</p>
<p>Pemanasan global mengakibatkan dampak yang  luas dan serius bagi lingkungan bio-geofisik (seperti pelelehan es di  kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan  dan banjir, perubahan iklim, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi  fauna dan hama  penyakit, dsb). Sedangkan dampak bagi aktivitas sosial-ekonomi  masyarakat meliputi : (a) gangguan terhadap fungsi kawasan pesisir dan  kota pantai, (b) gangguan terhadap fungsi prasarana dan sarana seperti  jaringan jalan, pelabuhan dan bandara (c) gangguan terhadap permukiman  penduduk, (d) pengurangan produktivitas lahan pertanian, (e) peningkatan  resiko kanker dan wabah penyakit, dsb). Dalam makalah ini, fokus  diberikan pada antisipasi terhadap dua dampak pemanasan global, yakni :  kenaikan muka air laut (<em>sea level rise</em>) dan banjir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=39</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MAHASISWA DAN NASIONALISME</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=37</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=37#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 May 2010 09:47:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa  dan Nasionalisme

Bentuk kecintaan kepada suatu Negara  nya menjadi sebuah tanggungjawab yang seharusnya dimiliki oleh setiap  warga Negara sebagai bentuk kontribusi terhadap wilayah tempat ia hidup  dan berkehidupan. Sudah sewajaranya memang rasa cinta ini dikembangkan  sejak dini untuk memberikan suatu semangat bela Negara dan semangat  filantropi terhadap Negara tercinta. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3 style="text-align: center;"><a href="http://nurachman-ceper.blogspot.com/2010/05/mahasiswa-dan-nasionalisme.html">Mahasiswa  dan Nasionalisme</a></h3>
<div></div>
<p>Bentuk kecintaan kepada suatu Negara  nya menjadi sebuah tanggungjawab yang seharusnya dimiliki oleh setiap  warga Negara sebagai bentuk kontribusi terhadap wilayah tempat ia hidup  dan berkehidupan. Sudah sewajaranya memang rasa cinta ini dikembangkan  sejak dini untuk memberikan suatu semangat bela Negara dan semangat  filantropi terhadap Negara tercinta. Makna mendalam ini tentunya bisa  diimplementasikan dalam berbagai bentuk, akan tetapi semangat yang  dibangun adalah semangat untuk senantiasa melakukan pengembangan diri  dan pengembangan komunitas sebagai bentuk kecintaan terhadap Negara.<br />
Pemuda  saat ini mempunya berbagai perspektif tentang apa itu cinta tanah air.  Luasnya spectrum perspektif ini dikarenakan adanya suatu  ketidakpercayaan pemuda terhadap negaranya sendiri. Hal ini bisa  terbangun akibat pemuda tidak merasakan langsung apa yang telah  diberikan oleh Negara untuk dirinya. Tentu sangat disayangkan jika  semangat nasionalisme ini tidak terbangun, bisa jadi di masa yang akan  datang, Indonesia akan diisi oleh orang-orang opurtunis yang hanya  mementingkan keuntungan sesaat. Gejala seperti ini sudah terjadi, dimana  bisa kita lihat para birokrat Negara ini tidak pernah mau untuk  melakukan investasi jangka panjang untuk Indonesia, karena jelas tidak  menguntungkan secara langsung untuk dirinya.<br />
Perlu diakui memang  luasnya spectrum perspektif nasionalisme ini ternyata berdampak pada  lebih banyaknya pemuda yang lebih mementingkan dirinya ketimbang Negara.  Mereka hanya menganggap dirinya “numpang” hidup di suatu wilayah tanpa  ada tanggung jawab untuk menjaga dan membela Negara nya. Permasalahan  ini tentu harus diselesaikan dengan membangun jiwa Negarawan diantara  para pemuda yang nantinya akan jadi agen pengubah bangsa di masa yang  akan datang.<br />
merdekaLangkah awal yang perlu dikembangkan adanya suatu  proses pendidikan dan pembudayaan yang baik sejak sekolah dasar. Dimana  pendidikan kewarganegaraan tidak hanya sebagai mata pelajaran yang  lepas lalu saja. Akan tetapi, menjadi sebuah mata pelajaran untuk  “mendoktrin” jiwa Negarawan diantara para pelajar di Indonesia. Cara ini  terbukti sukses di Republik Rakyat Cina, dimana ada mata pelajaran  khusus untuk menanamkan semangat komunisme. Sehingga di masa yang akan  datang akan timbul suatu kecintaan mendalam terhadap Negara Indonesia.<br />
Bentuk  dari pembuktikan rasa Nasionalisme kini tentu berbeda dengan yang  dilakukan oleh pejuang kita di masa lalu. Pejuang kemerdekaan dan  revolusi lebih banyak mengedepakan perjuangan fisik sebagai bentuk  Nasionalisme. Atau saat pejuang reformasi melawan rezim, pergerakan  dengan mobilisasi massa menjadi pilihan untuk menumbangkan rezim yang  memimpin secara tidak adil.<br />
Masa kini adalah masa globalisasi  informasi dan kompentensi. Sudah sewajarnya pembuktian Nasionalisme  dilakukan dalam bentuk karya nyata dan prestasi yang mampu menjadikan  sebuah Inspirasi bagi banyak orang. Mengejar prestasi secara akademik  dengan pembuktian hasil yang memuaskan merupakan bentuk Nasionalisme  jika diiringi dengan semangat inovasi dan kreatifitas untuk  mengembangkan masyarakat. Mahasiswa kini dituntut mampu membuat karya  nyata yang bisa bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak. Mahasiswa  tidak boleh lagi berpikir tentang pekerjaan apa yang akan didapatkannya  setelah lulus, akan tetapi mahasiswa dituntut untuk berpikir keras agar  mampu membuka lapangan pekerjaan untuk kesejahteraan masyarakat banyak.  Disinilah peran mahasiswa masa kini dan masa depan, dimana mampu menjadi  bagian dari solusi atas permasalahan masyarakat, mampu membangun opini  positif di masyarakat dan mampu menginspirasi masyarakat agar memiliki  suatu perspektif positif terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik.<br />
Makna  dan Sejarah Nasionalisme Indonesia<br />
Ketika berbicara mengenai  nasionalisme dalam konteks Indonesia pada saat ini, tentunya tidak  terlepas dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan perkembangan  kontemporer kita saat ini. Kedua hal ini masih terus mempengaruhi  nasionalisme, baik itu dari aspek definisi atau aspek praktikal, dan  tidak hanya saling mempengaruhi, namun juga akan memunculkan silang  pendapat antara golongan yang berusaha menghidupkan kembali romantisme  masa lalu dan golongan yang berusaha memahami realitas pada saat ini.<br />
Perdebatan  antara sejarah dan perkembangan saat ini dan kemudian muncul pro-kontra  antara golongan yang satu dengan yang lain akan selalu memunculkan  sebuah pertanyaan besar, yaitu: masih relevankah nasionalisme untuk  Indonesia? Pertanyaan yang sebenarnya hanya membutuhkan kalimat  selanjutnya yang cukup panjang ini, seakan tidak pernah tenggelam di  antara isu-isu lain yang berkembang, karena pada akhirnya isu-isu  tersebut bisa dikaitkan dengan nasionalisme.<br />
Nasionalisme adalah  suatu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara  (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama untuk  sekelompok manusia (Wikipedia, 2006). Dalam konteks Indonesia,  pengertian ini dapat kita cocokkan dengan sejarah Indonesia ketika tahun  1945, yang pada saat itu para pendiri bangsa berusaha membuat sebuah  nasionalisme yang dapat mempersatukan seluruh masyarakat yang berada  dalam wilayah jajahan Belanda. Nasionalisme yang kemudian dihasilkan  adalah sebuah nasionalisme yang berdasarkan kepada kesamaan nasib.  Konsep yang dihasilkan para pendiri bangsa tersebut, berhasil untuk  mempersatukan wilayah yang kita kenal sebagai Indonesia pada saat ini.<br />
Nasionalisme  akan mudah untuk dimengerti dan diimplementasikan jika ada musuh  bersama. Jika musuh ini hilang, maka ikatan nasionalisme akan mengendur  dengan sendirinya. Preseden yang muncul di Indonesia mempertegas  pendapat ini. Jika kita melihat ke tahun 1940-an, ketika Belanda masih  berusaha menguasai Indonesia melalui Agresi Militer I dan II,  nasionalisme di kalangan masyarakat masih kuat, sehingga perjuangan  Indonesia di Konferensi Meja Bundar 1949 membuahkan hasil diakuinya  kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara. Namun pasca-KMB 1949,  Indonesia kehilangan musuh bersama dan golongan-golongan dalam  masyarakat lebih mengutamakan kepentingan kelompok yang ditandai dengan  jatuh bangunnya kabinet selama masa tersebut. Nasionalisme sempat muncul  meski sebentar, ketika Indonesia mengeluarkan sikap politik luar negeri  terhadap Malaysia dengan Dwikora. Namun hal ini tidak berlangsung lama,  karena kondisi internal dalam Indonesia memang sedang rapuh. Setelah  itu, nasionalisme dapat dimunculkan kembali ketika Partai Komunis  Indonesia (PKI) dijadikan sebagai musuh bersama karena dianggap sebagai  biang keladi Gerakan 30 September. Lebih dari 30 tahun kemudian,  Indonesia memperoleh kembali sebuah musuh bersama, yaitu Orde Baru,  sehingga gerakan nasionalisme dapat menghasilkan reformasi dan demokrasi  yang selama 30 tahun dikebiri. Namun ketika musuh bersama tersebut  telah berhasil dilumpuhkan, kepentingan kelompok kembali muncul  mengesampingkan nasionalsime itu sendiri.<br />
Kejadian-kejadian historis  di Indonesia tersebut mempertegas bahwa nasionalisme dapat secara  efektif diimplementasikan apabila masyarakat dalam sebuah negara  memiliki musuh bersama.<br />
Nasionalisme Kini dan Gerakan Mahasiswa<br />
Dari  preseden yang ada mengenai nasionalisme, musuh bersama menjadi sebuah  kebutuhan jika nasionalsime ingin mempunyai tempat dalam kehidupan  Indonesia. Namun pencarian terhadap musuh bersama ini tidaklah sekadar  mencari subyek ataupun obyek yang sekadar dijadikan tumbal caci maki  oleh civil society (yang di dalamnya terdapat juga gerakan mahasiswa),  melainkan juga harus mencari subyek atau obyek yang memang harus  dijadikan musuh bersama karena pengaruhnya yang buruk bagi masyarakat.  Nasionalisme akan selalu berkaitan erat dengan masalah kedaulatan sebuah  negara. Kedaulatan adalah sebuah hal yang mutlak dimiliki oleh sebuah  negara dan tidak bisa diganggu gugat oleh negara atau pihak manapun.  Pada perkembangan saat ini, kedaulatan negara tidaklah lagi menjadi hal  yang mutlak untuk dipraktekkan. Karena dengan munculnya berbagai macam  organisasi internasional (OI) dan semakin kuatnya posisi tawar  negara-negara maju di dalam OI tersebut, kedaulatan negara menjadi  semakin kabur. Prinsip koordinatif yang dikembangkan ketika awal  Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) muncul menggantikan Liga Bangsa-bangsa  (LBB) tidak lagi tegas jika sudah berhadapan dengan kepentingan  negara-negara besar. Nasionalisme telah digantikan oleh globalisasi  sedikit demi sedikit. Globalisasi yang lahir dari budaya sebuah bangsa,  dan dijadikan budaya tunggal dunia. Indonesia terkena dampak dari  globalisasi ini. Hukum positif Indonesia tidak lagi menjadi kewenangan  legislatif, melainkan harus mematuhi regulasi internasional yang  dihasilkan oleh OI yang dikontrol oleh negara-negara maju.<br />
Nasionalisme  sebuah bangsa menentukan arah pergerakan bangsa tersebut kepada pilihan  yang lebih buruk atau baik. Negara-negara maju pada saat ini menekankan  pentingnya nasionalisme ketika mereka sedang berada dalam posisi  sebagai negara sedang berkembang. Ketika posisi mereka berubah,  nasionalisme mereka tidak ikut berubah dan justru berusaha menyebarkan  nasionalisme mereka ke negara lain. Jadi, ketika muncul pertanyaan:  masih relevankah nasionalisme untuk Indonesia, hal ini harus dijawab  dengan mudah jika melihat preseden dan memiliki visi yang tegas mengenai  bangsa ini. Bangsa yang tidak memiliki kedaulatan penuh atas  wilayahnya, akan selalu menjadi bangsa kelas dua di lingkungan  internasional, akan selalu menjadi bangsa konsumtif yang dependen  terhadap negara lain. Kedaulatan penuh dapat diwujudkan jika masyarakat  dalam suatu bangsa memiliki visi yang kuat untuk mengarahkan bangsanya  menjadi lebih baik. Sebuah visi yang kuat dapat lahir jika dilandaskan  dengan nasionalisme. Tanpa adanya nasionalisme, tidak akan ada visi,  tidak akan ada kedaulatan, dan tidak akan ada perubahan bagi bangsa ini.<br />
Lalu  bagaimana mahasiswa Indonesia (baca: mahasiswa UKSW) mewujudkan  nasionalisme yang erat kaitannya dengan musuh bersama? Tindakan apa yang  harus dilakukan oleh mahasiswa Indonesia? Berbagai cara diwujudkan oleh  civil society dalam mencari musuh pada saat ini untuk menunjukkan  nasionalisme mereka, terlepas dari kepentingan yang mereka usung. Ada  yang melalui tindakan elitis, persuasif, underground, sampai pada taraf  anarkis. Isu yang muncul pun semakin beragam seperti program peningkatan  kualitas pendidikan, penghapusan utang luar negeri, nasionalisasi  perusahaan multinasional, anti OI, dan lainnya. Tindakan mewujudkan  nasionalisme melalui metode-metode dan isu-isu tersebut terjadi dengan  mendasar pada kondisi yang berkembang pada saat ini. Mahasiswa Indonesia  tidak harus terikat dengan metode-metode dan isu-isu yang ada. Kajian  ilmiah menjadi sebuah keharusan bagi mahasiswa Indonesia yang merupakan  civil society berbasis kaum intelektual untuk dapat mengidentifikasi  musuh bersama yang ingin dikedepankan. Tanpa adanya kajian ilmiah yang  mendalam, aksi dalam mengedepankan musuh bersama untuk membangkitkan  kembali nasionalisme hanya akan menjadi aksi taktis yang tak ada  kontinuitasnya. Kajian ini juga tidak hanya sekadar bergerak dalam  isu-isu terkini saja, namun juga harus mampu mengantisipasi kemungkinan  yang terjadi pada masa yang akan datang, sehingga mahasiswa Indonesia  tidak tergagap-gagap untuk menghadapi perubahan masyarakat yang drastis.<br />
Mahasiswa  dan Nasionalisme<br />
Kajian ilmiah yang menjadi suatu keharusan bagi  mahasiswa Indonesia dalam membangkitkan kembali nasionalisme, harus  mampu diwujudkan jika mahasiswa Indonesia tidak ingin terjebak dalam  romantisme masa lalu. Mahasiswa Indonesia harus sungguh-sungguh dalam  mempersiapkan dan meningkatkan kualitas dirinya agar mampu membangkitkan  kembali nasionalisme Indonesia. Ketika kualitas diri mahasiswa  Indonesia meningkat dan kajian ilmiah semakin menguat, mahasiswa  Indonesia (termasuk mahasiswa UKSW) akan mampu menjadi think tank bagi  pergerakan nasionalisme di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=37</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HARI PAHLAWAN</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=35</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=35#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 11:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[
Hari ini, 64 tahun yang lalu, terjadi &#8220;Peristiwa 10  November&#8221;. Peristiwa perang besar ini, terjadi di Kota Surabaya, Jawa  Timur.
Berikut latar belakangnya. Pada tanggal 15 September 1945, tentara  Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober mereka mendarat  di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan  atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align: left;"><strong>Hari ini, 64 tahun yang lalu, terjadi &#8220;Peristiwa 10  November&#8221;. Peristiwa perang besar ini, terjadi di Kota Surabaya, Jawa  Timur</strong>.</p>
<p style="text-align: left;">Berikut latar belakangnya. Pada tanggal 15 September 1945, tentara  Inggris mendarat di Jakarta dan pada tanggal 25 Oktober mereka mendarat  di Surabaya. Tentara Inggris didatangkan ke Indonesia atas keputusan dan  atas nama Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang,  membebaskan para tawanan yang ditahan Jepang, dan memulangkan tentara  Jepang ke negerinya. Tetapi, di samping itu, tentara Inggris juga  memeliki tujuan rahasia untuk mengembalikan Indonesia kepada pemerintah  Belanda sebagai jajahannya.</p>
<p style="text-align: left;">Berbagai perkembangan yang terjadi telah menunjukkan hal itu dan  meledakkan kemarahan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Hal ini  menyulut berkobarnya bentrokan-bentrokan bersenjata antara pasukan  Inggris dengan beraneka-ragam badan perjuangan yang dibentuk oleh  rakyat. Puncaknya adalah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, pimpinan  tentara Inggris untuk Jawa Timur, pada tanggal 30 Oktober.</p>
<p style="text-align: left;">Karena terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby itu, maka penggantinya  (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan sebuah ultimatum. Dalam ultimatum  itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata  harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan  menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum  adalah jam 6 pagi tanggal 10 November 1945.</p>
<p style="text-align: left;">Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Alasannya, antara lain,  Republik Indonesia sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat sebagai  alat negara juga telah dibentuk.</p>
<p style="text-align: left;">Maka, pada tanggal 10 November (pagi), tentara Inggris mulai melancarkan  serangan besar-besaran, dengan mengerahkan sekitar 30 000 serdadu, 50  pesawat terbang dan sejumlah kapal perang. Ribuan penduduk menjadi  korban, banyak yang gugur dan luka-luka. Tetapi, perlawanan para pejuang  tetap berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari  penduduk. Pihak Inggris salah menduga bahwa Kota Surabaya bisa direbut  dalam waktu tiga hari saja, salah. Mereka perlu waktu sampai sebulan!</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Peristiwa 10 November&#8221;, pada kemudian hari, diperingati sebagai Hari  Pahlawan Nasional. Bukan hanya untuk mengenang begitu banyaknya pahlawan  yang gugur, atau lamanya pertempuran dan besarnya kekuatan lawan.</p>
<p style="text-align: left;"><img src="http://www.andriewongso.com/otherimage/00-bung-tomo.jpg" alt="Bung Tomo" width="151" height="207" /></p>
<p style="text-align: left;">Namun, juga untuk mengingatkan kita pada <strong>peran dan pengaruhnya,  yang begitu besar padajalannya revolusi</strong>. &#8220;Peristiwa 10  November&#8221; bisa menggerakkan rakyat untuk ikut serta, baik secara aktif  maupun pasif, dalam perjuangan membela bangsa dan Tanah Air.</p>
<p style="text-align: left;"><strong>Pahlawan Kehidupan</strong></p>
<p style="text-align: left;">Berkaitan dengan Hari Pahlawan Nasional, motivator kita Andrie Wongso  mengatakan, &#8220;Jika kita mau menggali lebih dalam, kita terlahir untuk  jadi pemenang. Selalu ada jiwa seorang patriot dalam diri setiap insan,  yang akan menjadikan kita sebagai pahlawan.</p>
<p style="text-align: left;">Tentu, kita tak harus angkat senjata di medan laga untuk menjadi  pahlawan sebenarnya. Melakukan berbagai hal positif dan memberi makna  dalam kehidupan ini, bisa menjadi kita seorang pahlawan.</p>
<p style="text-align: left;">Oleh karena itu, pada Hari Pahlawan Nasional ini, saya mengajak agar  kita bersama<strong> kembali menengok ke dalam diri sendiri, tentang  apa-apa saja yang sudah kita lakukan</strong>. Jika sukses yang didapat,  terus pertahankan! Jika gagal yang terjadi, teruslah berjuang. Jika  kebaikan yang kita petik, segera bagikan. Jika keburukan yang kita tuai,  evaluasi dan segera lakukan perbaikan. Saya yakin, jika semangat ini  terus dipertahankan, niscaya, kita akan tampil sebagai  ‘pahlawan-pahlawan&#8217; kehidupan. Salam sukses selalu..,</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=35</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PERAN GENERASI MUDA</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=33</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=33#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 May 2010 10:58:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Peran generasi muda atau pemuda dalam konteks  perjuangan dan pembangunan dalam kancah sejarah kebangsaan Indonesia  sangatlah dominan dan memegang peranan sentral, baik perjuangan yang  dilakukan secara fisik maupun diplomasi, perjuangan melalui organisasi  sosial dan politik serta melalui kegiatan-kegiatan intelektual. Masa  revolusi fisik dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah  ladang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Peran generasi muda atau pemuda dalam konteks  perjuangan dan pembangunan dalam kancah sejarah kebangsaan Indonesia  sangatlah dominan dan memegang peranan sentral, baik perjuangan yang  dilakukan secara fisik maupun diplomasi, perjuangan melalui organisasi  sosial dan politik serta melalui kegiatan-kegiatan intelektual. Masa  revolusi fisik dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah  ladang bagi tumbuh suburnya heroisme pemuda atau generasi muda yang  melahirkan semangat patriotisme dan nasionalisme. Pemuda atau generasi  muda yang hidup dalam nuansa dan suasana pergolakan kemerdekaan dan  perjuangan akan cenderung memiliki kreativitas tinggi dan keunggulan  untuk melakukan perubahan atas berbagai kerumitan dan masalah yang  dihadapi, akan tetapi bagi para pemuda atau generasi muda yang hidup  dalam nuansa nyaman, aman dan tentram seperti kondisi sekarang,  cenderung apatis, tidak banyak berbuat dan hanya berusaha mempertahankan  situasi yang ada tanpa usaha dan kerja keras melakukan perubahan yang  lebih baik dan produktif atau bahkan cenderung tidak kreatif sama  sekali.<br />
Generasi muda  memiliki posisi yang penting dan strategis  karena menjadi poros bagi punah atau tidaknya sebuah negara,  Benjamine  Fine dalam bukunya 1.000.000 Deliquents, mengatakan &#8220;a generation who  will one day become our national leader&#8221;. Generasi muda adalah pelurus  dan pewaris bangsa dan negara ini, baik buruknya bangsa kedepan  tergantung kepada bagaimana generasi mudanya, apakah generasi mudanya  memiliki kepribadian yang kokoh, memiliki semangat nasionalisme dan  karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya (nation and  character), apakah generasi mudanya memilki dan menguasai  pengetahuan  dan tekhnologi untuk bersaing dengan bangsa lain dalam tataran global  dan tergantung pula kepada apakah generasi mudanya berfikir positif  untuk berkreasi yang akan melahirkan karya &#8211; karya nyata yang monumental  dan membawa pengaruh dan perubahan yang besar bagi kemajuan bangsa dan  negaranya.</p>
<div>
<strong>B. Generasi muda  adalah orang yang membuat sejarah </strong><br />
(People Makes History)<br />
Peran  dan perjuangan pemuda Indonesia dirintis dan dimulai dari berdirinya  Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia yang kemudian menjadi  Perhimpunan Indonesia pada tahun 1908. Organisasi pemuda, pelajar dan  mahasiswa Hindia di Negeri Belanda ini kemudian menerbitkan Koran  Indonesia Merdeka. Dalam terbitannya yang pertama koran ini menyatakan  tentang kemauan besar bangsa Indonesia untuk merebut kembali hak-hak dan  menetapkan kedudukan atau keyakinan di tengah-tengah dunia, yaitu  sebuah Indonesia yang merdeka. Selanjutnya semangat nasionalisme dan  patriotisme tersebut mulai merambah ke Indonesia dengan berdirinya  organisasi Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang kemudian diperingati  sebagai hari Kebangkitan Nasional, kemudian berdiri pula Organisasi  Sarikat Islam (SI) pada tanggal 10 September 1912. Semangat nasionalisme  dan patriotisme tersebut kemudian dipertegas dengan Sumpah Pemuda yang  merupakan sumpah setia para pemuda pada saat Kerapatan Pemoeda-Pemoedi  Indonesia dalam Kongres Pemuda II yang dibacakan pada tanggal 28 Oktober  1928 yaitu tentang pengakuan generasi muda indonesia untuk bertumpah  darah yang satu, Tanah Indonesia, berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia  dan  menjunjung Bahasa Persatuan yaitu Bahasa Indonesia. Sebelumnya pada  rapat pertama, Sabtu, tanggal 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke  Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).  Dalam sambutannya, ketua PPI Sugondo Djojopuspito berharap kongres ini  dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara  kemudian dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan  hubungan persatuan dengan pemuda. Menurutnya, ada lima faktor yang bisa  memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat,  pendidikan, dan kemauan.  Militansi dan peran pemuda selanjutnya  terlihat menjelang proklamasi kemerdekaan yaitu dalam Peristiwa Rengas  Dengklok berupa &#8220;penculikan&#8221; yang dilakukan oleh sejumlah pemuda antara  lain Adam Malik dan Chaerul Saleh dari Menteng 31 terhadap Soekarno dan  Hatta. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.30  WIB. Soekarno dan Hatta dibawa atau lebih tepatnya diamankan ke  Rengasdengklok, Karawang, untuk kemudian didesak agar mempercepat  proklamasi, sampai kemudian terjadinya kesepakatan antara golongan tua  yang diwakili Soekarno dan Hatta serta Mr. Akhmad Subardjo dengan  golongan muda tentang kapan proklamasi akan dilaksanakan. Pada saat  mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda peran pemuda yang  tergabung dalam API, barisan pemuda pelopor dan laskar laskar  perlawanan rakyat sangat jelas sekali. Peristiwa 10 November Surabaya,  Bandung Lautan Api, adalah bukti pengorbanan pemuda atau generasi muda  bagi bangsa dan negara.</p>
<p><strong>C. Memaknai peristiwa sejarah  sebagai sumber edukasi dan inspirasi </strong><br />
Experience is the best  teacher. Jadi terminologi &#8220;belajar dari sejarah&#8221; bukahlah hal yang  sepele, justru sebaliknya lewat sejarah itulah identitas seorang warga  negara diperkokoh. Mengambil makna edukasi dan inspirasi dari  peristiwa-peristiwa sejarah besar (great historical events) di atas  tidak sebatas diperingati dalam upacara seremonial sambil mengenang jasa  para pemuda Indonesia. Lebih jauh para pemuda atau generasi muda saat  ini haruslah mengambil makna mendalam dan menemukan inspirasi dan  edukasi atas peristiwa bersejarah itu. Sejarah akan terus berulang untuk  masa dan pelaku sejarah yang berbeda. Pemuda atau generasi muda saat  ini mempunyai potensi besar mengulang sejarah yang lebih besar dan  monumental. Perjuangan merintis kemerdekaan, Proklamasi kemerdekaan,  satunya Indonesia sebagai sebuah nation atau bangsa, bukanlah sekedar  ikrar, tetapi harus jauh merayapi setiap nurani generasi muda dan rakyat  Indonesia untuk kemudian melahirkan gerakan yang nyata bagi perwujudan  untuk mencapai tujuan negara yaitu melindungi segenap Bangsa Indonesia  dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,  mencerdaskan kehidupan bangsa. Masa untuk mencapai tujuan negara telah  beberapa tahapan dilalui, mulai dari masa orde lama, orde baru bahkan  sekarang bangsa Indonesia  memasuki  era reformasi.<br />
Sejak bergulirnya  reformasi di Indonesia dimulai pada pertengahan Bulan Mei tahun 1998  yang ditandai dengan adanya pergantian rezim orde baru dengan orde  reformasi, belum banyak terjadi perubahan-perubahan mendasar dan  menyeluruh di segala aspek dan sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.  Orde reformasi yang menggantikan orde baru dan diharapkan dapat membawa  perubahan besar atau lompatan besar menuju Indonesia Baru untuk  menggantikan Indonesia Lama (Orde Baru) yang dipandang sebagai masa yang  penuh dengan kekurangan (deficiencies) dan berbagai macam penyakit  sosial (social ills), tampaknya masih jauh dari harapan. Masa-masa sulit  diawal reformasi yang dijalankan tampaknya belum mampu untuk mewujudkan  Indonesia Baru yang diharapkan. Masa-masa awal reformasi justru penuh  dengan situasi yang penuh dengan ketidakpastian, tidak dihormatinya  hukum dan keadilan (law and order). Harapan dan tuntutan masyarakat  terutama kalangan pemuda dan mahasiswa yang dikenal dengan agenda  reformasi hingga saat ini hampir dikatakan tidak berjalan atau dapat  dikatakan berjalan di tempat. Perubahan yang terjadi tampak dirasakan  hanya pada bidang demokrasi, yang dalam prakteknya malah cenderung  kepada demokrasi keterlaluan dan berlebihan (too much democracy). Pada  level bangsa (nation) kita jauh dari ketentraman (in order), malah  cenderung tidak aman (dis order). Penyakit masyarakat (social ills) dan  ketidakpastian hukum cenderung meningkat kemudian harga diri bangsa  dimata dunia saat ini malah semakin terpuruk dan ada kecenderungan,  bangsa ini hampir kehilangan kebanggaan dan identitas (jatidiri) sebagai  bangsa Indonesia (having no pride as Indonesian). Bangsa seolah-olah  saling menyalahkan dan membuka aib sendiri, bagaikan membuka kotak  pandora (pandora box). Kemudian tak dapat dinafikan, bahwa kemiskinan  dan pengangguran meningkat, investasi dan pertumbuhan ekonomi menurun  ditengah dominasi asing, kekerasan dan kesemrawutan berbagai kota,  berbagai bencana melanda, ditingkahi lakon elit politik yang jauh dari  harapan rakyat. Permasalahan-permasalahan bangsa semakin rumit dan  semakin tidak beradab, amuk masa, tawuran, kerusuhan sosial dan konflik  horizontal di daerah menjadi pemandangan yang mencengangkan. Berbagai  konflik kepentingan antara pusat dan daerahpun ikut meramaikan kondisi  bangsa dan cenderung ke arah disintegrasi bangsa. Kemudian lebih  menyedihkan lagi bangsa semakin diperparah dengan berbagai bencana dan  musibah di berbagai pelosok penjuru nusantara serta ancaman akan  kehilangan generasi (lost generation) akibat penyalahgunaan narkoba.  Seharusnya disaat kita sedang memulai pembangunan Indonesia baru yang  ditandai dengan perubahan-perubahan yang drastis, cepat dan berjangka  panjang di bidang politik diperlukan semangat kecintaan kepada bangsa,  kebersamaan dan persaudaraan yang dapat menumbuhkan harapan-harapan  pencerahan bagi bangsa untuk membangun Indonesia baru atau Indonesia  yang lebih baik, maka dimanakah para pemuda atau generasi muda mengambil  peran dalam situasi bangsa seperti ini.</div>
<div>
<strong>D.  Peran serta generasi muda dalam pembangunan </strong><br />
Disaat kondisi  bangsa seperti saat ini peranan pemuda atau generasi muda sebagai  pilar, penggerak dan pengawal jalannya reformasi dan pembangunan sangat  diharapkan. Dengan organisasi dan jaringannya yang luas, pemuda dan  generasi muda dapat memainkan peran yang lebih besar untuk mengawal  jalannya reformasi dan pembangunan. Permasalahan yang dihadapi saat ini  justru banyak generasi muda atau pemuda yang mengalami disorientasi,  dislokasi dan terlibat pada kepentingan politik praktis. Seharusnya  melalui generasi muda atau pemuda terlahir inspirasi untuk mengatasi  berbagai kondisi dan permasalahan yang yang ada. Pemuda atau generasi  muda yang mendominasi populasi penduduk Indonesia saat ini mesti  mengambil peran sentral dalam berbagai bidang untuk kemajuan antara  lain:</p>
<ol>
<li>Saatnya pemuda menempatkan diri sebagai agen sekaligus  pemimpin perubahan. Pemuda harus meletakkan cita-cita dan masa depan  bangsa pada cita cita perjuangannya. Pemuda atau generasi muda yang  relatif bersih dari berbagai kepentingan harus menjadi asset yang  potensial dan mahal untuk kejayaan dimasa depan. Saatnya pemuda memimpin  perubahan. Pemuda atau generasi muda yang tergabung dalam berbagai  Organisasi Kemasyarakatan Pemuda memiliki prasyarat awal untuk memimpin  perubahan. Mereka memahami dengan baik kondisi daerahnya dari berbagai  sudut pandang. Kemudian proses kaderisasi formal dan informal dalam  organisasi serta interaksi kuat dengan berbagai lapisan sosial termasuk  dengan elit penguasa akan menjadi pengalaman (experience) dan ilmu  berharga untuk mengusung perubahan.</li>
<li>Pemuda harus bersatu dalam  kepentingan yang sama (common interest) untuk suatu kemajuan dan  perubahan. Tidak ada yang bisa menghalangi perubahan yang diusung oleh  kekuatan generasi muda atau pemuda, sepanjang moral dan semangat juang  tidak luntur. Namun bersatunya pemuda dalam satu perjuangan bukanlah  persoalan mudah. Dibutuhkan syarat minimal agar pemuda dapat berkumpul  dalam satu kepentingan. Pertama, syarat dasar moral perjuangan harus  terpenuhi, yakni terbebas dari kepentingan pribadi dan perilaku moral  kepentingan suatu kelompok. Kedua, kesamaan agenda perjuangan secara  umum Ketiga, terlepasnya unsur-unsur primordialisme dalam perjuangan  bersama, sesuatu yang sensitive dalam kebersamaan.</li>
<li>Mengembalikan  semangat nasionalisme dan patriotisme dikalangan generasi muda atau  pemuda akan mengangkat moral perjuangan pemuda atau generasi muda.  Nasionalisme adalah kunci integritas suatu negara atau bangsa. Visi  reformasi seperti pemberantasan KKN, amandeman konstitusi, otonomi  daerah, budaya demokrasi yang wajar dan egaliter seharusnya juga dapat  memacu dan memicu semangat pemuda atau generasi muda untuk memulai  setting agenda perubahan.</li>
<li>Menguatkan semangat nasionalisme  tanpa harus meninggalkan jatidiri daerah. Semangat kebangsaan diperlukan  sebagai identitas dan kebanggaan, sementara jatidiri daerah akan  menguatkan komitmen untuk membangun dan mengembangkan daerah. Keduanya  diperlukan agar anak bangsa tidak tercerabut dari akar budaya dan  sejarahnya.</li>
<li>Perlunya kesepahaman bagi pemuda atau generasi muda  dalam melaksanakan agenda-agenda Pembangunan. Energi pemuda yang  bersatu cukup untuk mendorong terwujudnya perubahan. Sesuai karakter  pemuda yang memiliki kekuatan (fisik), kecerdasan (fikir), dan  ketinggian moral, serta kecepatan belajar atas berbagai peristiwa yang  dapat mendukung akselerasi perubahan.</li>
<li>Pemuda menjadi aktor  untuk terwujudnya demokrasi politik dan ekonomi yang sebenarnya. Tidak  dapat dihindari bahwa politik dan ekonomi masih menjadi bidang eksklusif  bagi sebagian orang termasuk generasi muda. Pemuda harus menyadari ,  bahwa sumber daya (resource) negeri ini sebagai aset yang harus  dipertahankan, tidak terjebak dalam konspirasi ekonomi kapitalis.</li>
<li>Secara  khusus peranan pemuda di Propinsi Kepulauan Bangka Belitung seharusnya  lebih berorientasi kepada upaya membangun kualitas sumber daya manusia  dan upaya menjaga kualitas sumber daya alam Bangka Belitung agar tetap  dapat mempunyai daya dukung bagi pembangunan Bangka Belitung dasawarsa  kedepan dan untuk persiapan bagi generasi mendatang. Sebagai suatu  propinsi yang baru menginjak usia delapan tahun banyak hal yang harus  diperbuat, diperjuangkan dan ditingkatkan agar propinsi ini dapat  sejajar serta dapat mengejar ketertinggalan dengan propinsi lainnya di  Indonesia. Issue aktual tentang kerusakan lingkungan di Bangka Belitung  hendaknya menjadi perhatian serius dan utama mengingat eksploitasi  terhadap biji timah yang sudah dimulai sejak masa Kesultanan Palembang  Darussalam pada tahun 1710, kemudian dilanjutkan oleh bangsa asing kulit  putih yaitu bangsa Inggris tahun 1812 dan bangsa Belanda sejak tahun  1814 hingga kemerdekaan, kemudian dilanjutkan eksploitasinya oleh  perusahaan Timah milik negara dan sekarang malah dieksploitasi secara  bebas dan besar-besaran oleh rakyat tanpa memperhatikan aturan-aturan  dan kelestarian lingkungan, akan berakibat pada kerusakan dan  kehancuran. Dalam posisi inilah harusnya pemuda atau genersi muda dapat  berperan menghentikan kerusakan dan mengajukan alternatif solusi yang  cerdas bagi penyelesaiannya dan terutama sekali solusi terbaik bagi  penghidupan rakyat pasca timah. Saat ini suara, pemikiran dan tindakan  nyata dari generasi muda atau pemuda, mahasiswa, akademisi atau dari  golongan elite terpelajar nyaris tak terdengar, sebetulnya banyak  kebijakan-kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang perlu  dikritisi secara arif.</li>
</ol>
<p>8.    Pemuda atau generasi muda harus  dapat memainkan perannya sebagai kelompok penekan atau pressure group  agar kebijakan-kebijakan strategis daerah memang harus betul-betul  mengakar bagi kepentingan dan kemashlatan umat.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=33</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGERTIAN PANCASILA</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=31</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=31#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 11:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[PENGERTIAN PANCASILA
Pancasila merupakan ideologi bangsa dan dasar negara Indonesia. Sayangnya, belakangan ini Pancasila hanya dijadikan slogan belaka.
Nilai-nilainya kerap dilupakan. sebagai ikhtiar membumikan Pancasila sebagai landasan ideal bagi sistem pemerintahan dan landasan etis-moral kehidupan berbangsa, dan bernegara, serta bermasyarakat.
pancasila yang sudah kita sepakati bersama menjadi dasar negara kini seakan telah “ditelan bumi”. Kini Pancasila sudah tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PENGERTIAN PANCASILA</strong></p>
<p>Pancasila merupakan ideologi bangsa dan dasar negara Indonesia. Sayangnya, belakangan ini Pancasila hanya dijadikan slogan belaka.<br />
Nilai-nilainya kerap dilupakan. sebagai ikhtiar membumikan Pancasila sebagai landasan ideal bagi sistem pemerintahan dan landasan etis-moral kehidupan berbangsa, dan bernegara, serta bermasyarakat.</p>
<p>pancasila yang sudah kita sepakati bersama menjadi dasar negara kini seakan telah “ditelan bumi”. Kini Pancasila sudah tidak lagi menjadi bahan perbincangan baik dalam forum resmi, seperti seminar maupun obrolan santai di warung kopi. Masyarakat lebih antusias membicarakan kerusuhan dalam pilkada, pro-kontra seputar pemberian gelar pahlawan kepada almarhum mantan Presiden Soeharto, acara-acara televisi yang semakin kurang bermutu dan hal-hal lain yang kurang penting daripada membicarakan bagaimana nasib Pancasila yang kini sudah mulai hilang dari perbincangan publik. Pancasila hanya dijadikan bahan seremonial dalam pelaksanaan upacara..</p>
<p>Implementasi Pancasila<br />
Secara formalitas hampir semua rakyat Indonesia mengakui bahwa dasar negara kita adalah Pancasila. Pertanyaan mendasar sekarang adalah apakah seluruh rakyat Indonesia, baik yang menjadi penguasa maupun rakyat biasa sudah menerima sepenuhnya Pancasila dan berusaha mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari? Kalau memperhatikan kondisi bangsa yang saat ini masih terpuruk dengan berbagai krisis yang belum kunjung selesai, rasanya kita sebagai bangsa harus berani mengakui bahwa nilai-nilai Pancasila belum sepenuhnya kita amalkan. Pancasila masih sebatas retorika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.</p>
<p>Nilai ketuhanan belum sepenuhnya diimplementasikan karena kerukunan hidup beragama masih belum sepenuhnya tercipta. Kasus Ambon dan Poso bisa menjadi suatu bukti. Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab masih belum terwujud sepenuhnya, karena masih banyak kekerasan kita saksikan. Nilai persatuan Indonesia belum menjadi pilihan sikap seluruh bangsa Indonesia, karena masih ada saudara kita yang ingin memisahkan diri dari NKRI. Nilai permusyawaratan perwakilan masih jauh dari harapan, karena masih banyak saudara kita yang menyelesaikan suatu persoalan dengan cara-cara kekerasan (anarkis). Nilai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia juga masih belum sepenuhnya terlaksana, karena angka kemiskinan dan pengangguran masih cukup tinggi.</p>
<p>Kembali ke Pancasila<br />
Solusi terbaik untuk mengatasi persoalan-persoalan kebangsaan di atas adalah dengan kembali ke nilai-nilai Pancasila. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kembali ke Pancasila? Pertama, membumikan Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Membumikan Pancasila berarti menjadikan nilai-nilai Pancasila menjadi nilai-nilai yang hidup dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu Pancasila yang sesungguhnya berada dalam tataran filsafat harus diturunkan ke dalam hal-hal yang sifatnya implementatif.</p>
<p>Sebagai ilustrasi nilai sila kedua<br />
Pancasila harus diimplementasikan melalui penegakan hukum yang adil dan tegas. Contoh, aparat penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim) harus tegas dan tanpa kompromi menindak para pelaku kejahatan, termasuk koruptor. Jadi membumikan Pancasila salah satunya adalah dengan penegakan hukum secara tegas. Tanpa penegakan hukum yang tegas, maka Pancasila hanya rangkaian kata-kata tanpa makna dan nilai serta tidak mempunyai kekuatan apa-apa.</p>
<p>Kedua, internalisasi nilai-nilai Pancasila, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal (masyarakat). Pada tataran pendidikan formal perlu revitalisasi mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (dulu Pendidikan Moral Pancasila) di sekolah. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan selama ini dianggap oleh banyak kalangan “gagal” sebagai media penanaman nilai-nilai Pancasila. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan hanya sekedar menyampaikan sejumlah pengetahuan (ranah kognitif) sedangkan ranah afektif dan psikomotorik masih kurang diperhatikan. Ini berakibat pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan cenderung menjenuhkan siswa. Hal ini diperparah dengan adanya anomali antara nilai positif di kelas tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam realitas sehari-hari. Sungguh dua realitas yang sangat kontras dan kontradiktif.<br />
Oleh karena itu pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus dikemas sedemikian rupa, sehingga mampu menjadi alat penanaman nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda.</p>
<p>Pada tataran masyarakat, internalisasi Pancasila gagal menjadikan masyarakat Pancasilais. Pola penataran P4 yang dipakai sebagai pendekatan rezim Orde Baru juga gagal mengantarkan masyarakat Pancasilais. Hal ini disebabkan Pancasila justru dipolitisasi untuk kepentingan kekuasaan. Ketika reformasi seperti saat ini, Pancasila justru semakin jauh dari perbincangan, baik oleh masyarakat maupun para elit politik. Pancasila seakan semakin menjauh dari keseharian kita.</p>
<p>Sungguh ironis sebagai bangsa pejuang yang dengan susah payah para pendiri negara (founding fathers) menggali nilai-nilai Pancasila dari budaya bangsa, kini semakin pudar dan tersisih oleh hiruk pikuk reformasi yang belum mampu menyelesaikan krisis multidimensional yang dialami bangsa dan negara Indonesia. Oleh karena itu perlu dicari suatu model (pendekatan) internalisasi nilai-nilai Pancasila kepada masyarakat yang tepat dan dapat diterima, seperti melalui pendekatan agama dan budaya.</p>
<p>Ketiga, ketauladanan dari para pemimpin, baik pemimpin formal (pejabat negara) maupun informal (tokoh masyarakat). Dengan ketauladanan yang dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila, diharapkan masyarakat luas akan mengikutinya. Hal ini disebabkan masyarakat kita masih kental dengan budaya paternalistik yang cenderung mengikuti perilaku pemimpinnya. Sudah semestinya kita bangga kepada bangsa dan negara Indonesia yang berideologikan Pancasila. Mari kita kembali ke jati diri bangsa (Pancasila) dalam menyelesaikan setiap masalah kebangsaan yang kita hadapi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=31</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>GENERASI MUDA BEBAS ROKOK</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=29</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=29#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 10:59:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=29</guid>
		<description><![CDATA[Generasi Muda Bebas rokok
“Generasi Muda Bebas rokok”
Sebagai bentuk kampanye membebaskan generasi muda dari bahaya rokok, tahun ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Youth free tobacco (generasi muda bebas tembakau) sebagai tema peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei 2008. Tema ini menjadi penting bagi Indonesia , karena anak-anak usia sekolah dasar pun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 style="text-align: center;">Generasi Muda Bebas rokok</h2>
<p><strong>“Generasi Muda Bebas rokok”</strong></p>
<p>Sebagai bentuk kampanye membebaskan generasi muda dari bahaya rokok, tahun ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan Youth free tobacco (generasi muda bebas tembakau) sebagai tema peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei 2008. Tema ini menjadi penting bagi Indonesia , karena anak-anak usia sekolah dasar pun kini telah banyak yang mengakrapi rokok, dan tingkat pertumbuhannya pun amat spektakular. Berdasarkan Sensus Sosial Nasional tahun 2004, perokok aktif dari kelompok usia 13-15 tahun mencapai 26, 8 persen, dan usia 5-9 tahun terdata 1,8 persen. Pada periode 2001-2004, jumlah perokok aktif usia 5-9 tahun meningkat hingga 400 persen.</p>
<p>Kampanye, membebaskan generasi muda dari bahaya tembakau/rokok merupakan gagasan mulia yang jika didukung bersama akan berdampak luas. Namun, ternyata para para perokok di</p>
<p>Indonesia<br />
tidak mampu menghentikan kebiasaan merokoknya untuk satu hari saja, untuk menghormari hari itu? Bisakah tempat-tempat umum setelah hari itu menjadi tempat yang sungguh bebas rokok? Dan bisakah kita membuang asbak dari rumah kita untuk melindungi generasi muda dari terpaan asap rokok? Dan beranikah pemerintah menerapkan aturan-aturan yang lebih ketat untuk mengontrol konsumsi rokok?</p>
<p><strong>Suara Generasi </strong></p>
<p>Kampanye membebaskan generasi muda dari bahaya rokok sesungguhnya merupakan usaha untuk mendengarkan jeritan generasi muda untuk dilindungi dari bahaya rokok. Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS), sekitar 88% pelajar SMP setuju adanya larangan merokok ditempat umum, dan 75,9 % pelajar perokok ingin berhenti merokok, meski sebagian besar diantara mereka gagal untuk berhenti.</p>
<p>Antara menulis, 51,67 % responden usia 13-15 tahun kadang mendapati orang lain merokok dirumah mereka saat mereka sedang di rumah. Keresahan generasi muda ini semakin kuat ketika mereka tahu, 100 % asap rokok yang dihasilkan seorang perokok, 25 persen masuk kedalam tubuh sang perokok, sedangkan 75 persen sisanya dihirup oleh orang-orang sekitarnya. Bahaya merokok bukan hanya berakibat buruk bagi perokok, tetapi juga pada generasi muda yang tidak merokok namun terpapar asap rokok orang lain di rumah mereka (perokok pasif).</p>
<p>Kampanye-kampanye tentang bahaya rokok yang meyertakan, anak-anak, remaja dan pemuda juga tidak perlu ditanggapi negatif, sebaliknya mesti dipahami sebagi usaha menyadarkan anak, remaja dan pemuda tentang bahaya rokok, untuk kemudian mengajak mereka menggemakannya bersama. Usaha itu justru merupakan tindakan mulia untuk menyelamatkan generasi muda.</p>
<p>Tak dapat dipungkiri, usaha untuk melindungi generasi muda dari bahaya rokok merupakan sesuatu yang amat penting, bukan hanya untuk menekan pertambahan jumlah perokok baru, tapi juga mencegah lebih banyak lagi korban perokok pasif. Perlindungan ini semestinya juga menjadi tanggung jawab pemerintah.</p>
<p><strong>Peraturan yang lebih tegas</strong></p>
<p>Hari Tanpa Tembakau Sedunia kali ini semestinya dijadikan momen penting oleh pemerintah untuk menetapkan peraturan yang lebih tegas sebagai komitmen mendukung tekad membebaskan generasi muda dari tembakau. Karena peraturan-peraturan yang ditetapkan di ndonesia.</p>
<p>masih lebih longgar dibandingkan banyak negara-negara lainMasih longgarnya kontrol konsumsi rokok yang membahayakan generasi muda itu terlihat dari keengganan pemerintah untuk meratifikasi kerangka kerja konvensi mengenai pengendalian tembakau (Frame Work Convention on Tobacco Control/FCTC). Padahal sejak Mei tahun 2003, FCTC itu telah disetujui 192 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang isinya adalah ketentuan-ketentuan penting untuk melindungi masyarakat dari kerusakan kesehatan, sosial, lingkungan dan konsekwensi ekonomi akibat konsumsi tembakau serta paparan terhadap asap tembakau. Jika aturan ini ditetapkan secara konsekwen di</p>
<p>Indonesia pastilah akan sangat menolong untuk melindungi generasi muda dari ancaman rokok.</p>
<p>Pemerintah seharusnya tak perlu ragu untuk meratifikasi FCTC karena itu telah menjadi hukum internasional yang telah diratifikasi oleh 137 negara. Apalagi</p>
<p>Indonesia<br />
adalah satu-satunya negara di Asia<br />
yang belum menanda tanganinya.</p>
<p>Alasan bahwa ratifikasi FCTC akan mempengaruhi kondisi perekonomian sebenarnya tak berdasar. Industri rokok memiliki dampak negatifnya yang sangat besar, sedang keuntungan-keuntungan ekonomi yang dihasilkan rokok relative kecil.</p>
<p>Ada<br />
banyak sector-sektor lain seperti perdagangan, konstruksi yang menghasilkan keuntungan jauh lebih besar, dan tenaga kerja industri rokok bisa dialihkan pada sector-sektor tersebut.</p>
<p><strong>Perlu dukungan</strong></p>
<p>Kampanye membebaskan generasi muda dari bahaya rokok ini sudah semestinya mendapat dukungan semua pihak, khususnya untuk</p>
<p>Indonesia<br />
yang adalah surganya Industri rokok. Cukai rokok di Indonesia saat ini masih sangat rendah dibandingkan negara-negara lain, cukai rokok di Indonesia saat ini sebesar 37% dari harga eceran, India 72%, Thailand 63%, Jepang 61%, Malayssia 49-57%, Filipina 46-49%, Vietnam 45%, China 40%. Melalui keuntungan yang besar dari industri rokok itu menurut laporan majalah Forbes, industri rokok telah menempatkan tiga pengusaha rokok dalam daftar orang terkaya di Indonesia<br />
.</p>
<p>Kita tentu setuju, melindungi generasi muda dari bahaya rokok merupakan tindakan bijaksana, dan itu akan mengurangi jumlah perokok baru. Bukan rahasia, mereka yang sudah terbiasa merokok umumnya sulit untuk untuk berhenti merokok. Rokok mengandung nikotin yang bersifat candu, berhenti merokok, akan menyebabkan gejala <em>withdrawal</em>, seperti gelisah, cemas, dan marah tanpa sebab. Karena itu berhenti merokok membutuhkan perjuangan yang kuat. Menurut Global Youth Tobacco Survey (GYTS), yang dilakukan dalam kurun waktu 2004-2006 dilaporkan bahwa 85% pelajar SMP mengaku pernah mencoba berhenti merokok, tapi gagal dan tetap merokok. Tanpa dukungan kita, generasi muda perokok itu tentu akan berhenti mencoba untuk membebaskan diri dari rokok.</p>
<p>Tidak mengherankan, meski daya beli masyarakat terus menurun dengan naiknya harga BBM yang diikuti dengan lonjakan harga-harga kebutuhan pangan, industri rokok tetap optimis, mereka tetap yakin, pelanggan rokok tidak akan pindah kelain hati. Kemudian bahaya baru pun muncul, terlebih untuk keluarga miskin yang jumlah perokoknya 12, 43 %, karena kebiasaan merokok telah mengalahkan kebutuhan lain yang penting, yaitu kebutuhan gizi dan pendidikan.</p>
<p>Negeri ini membutuhkan generasi muda yang berkualitas, dan untuk melahirkan generasi muda yang berkualitas tersebut diperlukan keseriusan, termasuk bagaimana melindungi mereka dari bahaya rokok yang secara bersama kita setujui sebagaimana tertera dalam kemasan rokok, <strong>Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. </strong>untuk itu marilah kita sebagai generasi muda jangan terjerumus kedunia rokok, karena merokok itu dapat menggangu kesehatan.hidup generasi muda yang sehat tanpa rokok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=29</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HAK ASAI MANUSIA (HAM)</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=26</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=26#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Apr 2010 13:06:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang</p>
<p>Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa “Hak Asasi Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manus</p>
<p><strong>Ciri Pokok Hakikat HAM</strong></p>
<p>Berdasarkan beberapa rumusan HAM di atas, dapat ditarik kesimpulan tentang beberapa ciri pokok hakikat HAM yaitu:</p>
<ul>
<li>HAM  tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian  dari manusia secara otomatis.</li>
<li>HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau asal-usul sosial dan bangsa.</li>
<li>HAM tidak bisa dilanggar. Tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah Negara membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM (Mansyur Fakih, 2003).</li>
</ul>
<p><strong>Perkembangan  Pemikiran HAM</strong></p>
<ul>
<li>Dibagi  dalam 4 generasi, yaitu :
<ul>
<li>Generasi pertama berpendapat bahwa pemikiran HAM hanya berpusat pada bidang hukum dan politik. Fokus pemikiran HAM generasi pertama pada bidang hukum dan politik disebabkan oleh dampak dan situasi perang dunia II, totaliterisme dan adanya keinginan Negara-negara yang baru merdeka untuk menciptakan sesuatu tertib hukum yang baru.</li>
<li>Generasi kedua pemikiran HAM tidak saja menuntut hak yuridis melainkan juga hak-hak sosial, ekonomi, politik dan budaya. Jadi pemikiran HAM generasi kedua menunjukan perluasan pengertian konsep dan cakupan hak asasi manusia. Pada masa generasi kedua, hak yuridis kurang mendapat penekanan sehingga terjadi ketidakseimbangan dengan hak sosial-budaya, hak ekonomi dan hak politik.</li>
<li>Generasi ketiga sebagai reaksi pemikiran HAM generasi kedua. Generasi ketiga menjanjikan adanya kesatuan antara hak ekonomi, sosial, budaya, politik dan hukum dalam suatu keranjang yang disebut dengan hak-hak melaksanakan pembangunan. Dalam pelaksanaannya hasil pemikiran HAM generasi ketiga juga mengalami ketidakseimbangan dimana terjadi penekanan terhadap hak ekonomi dalam arti pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama, sedangkan hak lainnya terabaikan sehingga menimbulkan banyak korban, karena banyak hak-hak rakyat lainnya yang dilanggar.</li>
<li>Generasi keempat yang mengkritik peranan negara yang sangat dominant dalam proses pembangunan yang terfokus pada pembangunan ekonomi dan menimbulkan dampak negative seperti diabaikannya aspek kesejahteraan rakyat. Selain itu program pembangunan yang dijalankan tidak berdasarkan kebutuhan rakyat secara keseluruhan melainkan memenuhi kebutuhan sekelompok elit. Pemikiran HAM generasi keempat dipelopori oleh Negara-negara di kawasan Asia yang pada tahun 1983 melahirkan deklarasi hak asasi manusia yang disebut <em>Declaration of the basic Duties of Asia People and Government</em></li>
</ul>
<p>Pelanggaran terhadap HAM dapat dilakukan oleh baik aparatur negara maupun bukan aparatur negara (UU No. 26/2000 tentang pengadilan HAM).</li>
<li>Karena itu penindakan terhadap pelanggaran HAM tidak boleh hanya ditujukan terhadap aparatur negara, tetapi juga pelanggaran yang dilakukan bukan oleh aparatur negara. Penindakan terhadap pelanggaran HAM mulai dari penyelidikan, penuntutan, dan persidangan terhadap pelanggaran yang terjadi harus bersifat non-diskriminatif dan berkeadilan. Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan pengadilan umum.</li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=26</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>cinta tanah air indonesia</title>
		<link>http://jaenidahlan.info/?p=20</link>
		<comments>http://jaenidahlan.info/?p=20#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 11:01:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jaenidahlan.info/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[CINTA TANAH AIR INDONESIA
Dapat dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilahirkan oleh generasi yang mempunyai idealisme cinta tanah air &#38; bangsa, kalau tidak, mungkin saat ini kita bangsa Indoneia masih dijajah oleh Belanda yang luas negaranya dibandingkan pulau Bali saja masih luasan pulau Bali. Kita harus sangat terimakasih kepada para tokoh yang mencentuskan pembentukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>CINTA TANAH AIR INDONESIA</strong></p>
<p>Dapat dikatakan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia ini dilahirkan oleh generasi yang mempunyai idealisme cinta tanah air &amp; bangsa, kalau tidak, mungkin saat ini kita bangsa Indoneia masih dijajah oleh Belanda yang luas negaranya dibandingkan pulau Bali saja masih luasan pulau Bali. Kita harus sangat terimakasih kepada para tokoh yang mencentuskan pembentukan organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908, para pencetus Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, dan para tokoh yang memungkinkan terjadinya proklamasi 17 Agustus 1945. Saya sangat yakin mereka adalah contoh paling pas untuk dijadikan tokoh-tokoh nasionalis tulen yang cintanya pada tanah air dan bangsa melebihi cintanya pada diri sendiri yang kita harus hormati sepanjang masa.</p>
<p>Apakah masih relevan kita mencintai tanah air dan bangsa pada zaman globalisasi ini? Bukankah tanah air dan bangsa ini sudah nggak jelas batas-batasnya dengan adanya era globalisasi? Ada internet yang menghubungakan setiap orang untuk bisa berhubungan satu sama lain setiap saat keseluruh dunia Kenapa kita mau membatasi hanya tanah air dan bangsa Indonesia saja.</p>
<p>BAB II<br />
PEMBAHASAN<br />
RASA CINTA TANAH AIR DAN BANGSA</p>
<p>Hilangnya rasa cinta tanah air yang dimiliki oleh bangsa Indonesia memang telah memudar. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya kasus korupsi, buang sampah sembarangan, penebangan pohon secara liar, banyaknya pembajakan terhadap produk-produk tertentu hingga kasus bom yang baru-baru saja terjadi.</p>
<p>Jika saja mereka memang memiliki rasa cinta tanah air yang besar, sudah pasti mereka tidak akan melakukan pemboman di negeri sendiri,dan tidak juga melakukan pemboman di negeri lain.Hilangnya jati diri bangsa,kurangnya kepedulian terhadap sesama,kurangnya rasa cinta tanah air lah yang meyebabkan hal ini dapat terjadi.CInta tanah air,berarti mencintai Indonesia apa adanya,kita adalah satu keluarga besar yang terdiri dari berbagai macam kebudayaan masing-masing,cintailah itu,banggalah menjadi sebuah bangsa yang memiliki kebudayaan yang unik dan cintailah negrimu.Apapun dan bagaimanapun ini adalah negeri kita Indonesia tempat kita bernapas,tempat kita berlindung maka dari itu cintailah Indonesiamu.<br />
Budaya Indonesia memang memiliki nilai yang unik dan dapat menggugah ketertarikan dari warga manca negara di belahan dunia. Namun, sayangnya budaya yang beraneka ragam ini tidak banyak dicintai oleh warganya sendiri (kita). Terbukti, dengan lebih tertariknya warga kita pada budaya luar. Budaya yang semestinya menjadi warisan untuk anak bangsa dari Sabang sampai Merauke ini, malah kurang diminati dirumahnya sendiri. Mulai dari kalangan anak kecil sampai kalangan tua.<br />
Warga kita lebih mengutamakan budaya luar ketimbang melestarikan budayanya sendiri. Maka tidak heran, jika budaya kita dengan mudah diklaim oleh negara lain. Malaysia sebagai contohnya. Beberapa budaya kita telah diklaim sebagai budaya yang lahir di Negeri Jiran ini. Setelah adanya klaim dari Malaysia, baru seluruh elemen dari WNI sibuk mencaci maki Malaysia.</p>
<p>Pada hakekatnya cinta tanah air dan bangsa adalah kebanggaan menjadi salah satu bagian dari tanah air dan bangsanya yang berujung ingin berbuat sesuatu yang mengharumkan nama tanah air dan bangsa. Pada keadaan yang amburadul saat ini apa yang bisa dibanggakan dari negara dan bangsa Indonesia? Generasi “founding fathers” pada masa penjajahan berhasil membangkitkan rasa cinta tanah air dan bangsa yang pada akhirnya berhasil memerdekakan bangsa Indonesia. Kalau saja rasa cinta tanah air dan bangsa sekali lagi bisa menjadi faktor yang memotivasi bangsa Indonesia, ada kemungkinan bangsa Indonesia akan bisa bangkit kembali dengan masyarakatnya bisa menghasilkan karya-karya yang membanggakan kita sebagai bangsa Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jaenidahlan.info/?feed=rss2&amp;p=20</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
